Thursday, May 21, 2015

Manusia itu memang selalu ingin tempat yang khusus...

Saya bingung mau posting apa, sambilan browsing dan cari ilham untuk bahan posting,
secara gak sengaja scroll-scroll dan ngeliat postingan dari tokoh yg membawa inspirasi buat saya....
credit to PIDI BAIQ

Malam-malam, saya iseng, membuka-buka buku catatan pelajaran saya waktu masih SMA. Buku-buku itu ada tersimpan di sebuah lemari kayu yang besar. Salah satunya adalah buku catatan untuk mata pelajaran Sejarah.
Di bagian halaman belakang, ada tulisan tangan saya yang saya sudah lupa oleh sebab apa sehingga dulu sampai harus menulisnya. Itu mungkin puisi, atau seperti puisi, atau entah apa. Tulisan itu diberi judul:

SEBELUM KE BUMI
Dulu rambut saya biru, penasihat saya juga biru. 
Terus, saya disuruh ke bumi, 
gara-gara gak mau nyuci piring setelah sarapan pagi.

Saya bersayap enam, penasehat saya juga bersayap enam.
Di bumi, saya disuruh Tuhan, makan, minum, dan minta uang ke ibu. 
Itu membosankan buat saya. Apalagi wanita, capek saya.

Saya pengen cepat pulang ke sorga. 
Tapi Tuhan melarang saya.
Saya masih dapat tugas menjadi siswa SMA, 
untuk menemani anjingku agar selalu semangat.

Saya bukan raja. Indonesia terlalu kecil buat saya. 
Saya bukan bercita-cita, tapi ditakdirkan 
jadi saya untuk senang dan pandai ngusir kecewa. 
Dan berdoa untuk seluruh rakyat Indonesia yang cantik.

Penasihat saya itu kampungan, 
habis tidak punya apa-apa yang bisa saya banggakan. 
KTP nya sudah habis, dan terus terang dia tidak pantas menjadi pacarnya si Maharani.
 Anehnya dia enoy-enjoy saja selama ada rokok di tangan dan secangkir kopi.

Saya berfikir alangkah kerennya Tuhan itu. 
Saya ingin kamu tahu saya menelusuri setiap pelangi, 
barangkali ada warna yang disukai oleh ibu.
Saya bingung, bagus semua dan ibu mau semua.

0 comments:

Post a Comment